Serba Serbi

Melukis Sejarah dan Keindahan Bojonegoro

388
×

Melukis Sejarah dan Keindahan Bojonegoro

Sebarkan artikel ini

Bojonegoro – Bojonegoro, sebuah kabupaten bersejarah di Provinsi Jawa Timur, menjadi destinasi yang tak hanya menawarkan panorama alam yang menakjubkan, tetapi juga menyimpan sejarah yang kaya dan kuliner-kuliner lezat yang menggoda lidah.

Dengan ibu kota yang sama, Bojonegoro berbagi batas langsung dengan lima kabupaten, empat di antaranya berada di Jawa Timur dan satu di Jawa Tengah. Di bagian utara, Tuban berjejer sebagai tetangga, sedangkan di timur, Lamongan memberikan sentuhan batas. Sementara di selatan, Kabupaten Nganjuk, Madiun, dan Ngawi menjadi pemandangan sehari-hari. Dan di barat, Bojonegoro berbagi batas dengan Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Wilayah barat Bojonegoro memiliki keistimewaan sebagai bagian dari Blok Cepu, salah satu sumber deposit minyak bumi terbesar di Indonesia.

Secara administratif, Bojonegoro terdiri dari 28 kecamatan yang terbagi dalam 11 kelurahan dan 419 desa. Mayoritas wilayah ini didominasi oleh pertanian, menciptakan lanskap yang subur dan menghijau.

Topografi Bojonegoro memperlihatkan perpaduan antara tanah berbukit di sebelah selatan dan dataran rendah sepanjang aliran Bengawan Solo di utara, yang menjadi lahan subur bagi sektor pertanian.

Namun, keberagaman Bojonegoro tidak hanya tercermin dalam geografi dan sejarahnya. Terdapat fakta-fakta menarik yang menambah warna kekayaan kabupaten ini. Pada masa kerajaan, Bojonegoro merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Majapahit. Seiring berdirinya Kesultanan Demak pada abad ke-16, Bojonegoro beralih ke pemerintahan Demak.

Baca Juga :  Pernikahan Dini Merenggut Cita-cita-Ku

Perkembangan agama Islam menjadi pendorong perubahan nilai dan tatanan masyarakat. Budaya Hindu yang dulunya dominan perlahan tergantikan, dan masyarakat mulai mengadopsi nilai-nilai Islam yang diakulturasi dengan tradisi setempat.

Dalam proses merebut kekuasaan Majapahit, peperangan tak terelakkan, membawa pada peralihan kekuasaan. Pada tahun 1585, Bojonegoro masuk ke wilayah Kerajaan Pajang, dan dua tahun kemudian, pada tahun 1587, menjadi bagian dari Mataram.

Perjalanan panjang tersebut membawa Bojonegoro menjadi salah satu kabupaten di Jawa Timur, dengan Hari Jadi yang diperingati setiap tanggal 20 Oktober. Tanggal tersebut dipilih sebagai hari jadi ketika status Jipang berubah dari kadipaten menjadi kabupaten pada 20 Oktober 1677.

Nama Angling Dharma juga tak luput dari perhatian khalayak. Hingga terdapat petilasan di Desa Kalitidu, Kecamatan Kalitidu. Meski belum terbukti adanya keberadaan Angling Dharma, namun masyarakat setempat percaya jika tokoh pewayangan jawa itu pernah bertapa yang kini dijadikan wisata desa oleh pemerintah setempat.

Bojonegoro juga dikenal dengan julukan khasnya, seperti “Kota Ledre,” merujuk pada oleh-oleh khas berupa Ledre, sebuah emping gulung dengan aroma khas pisang raja manis.

“Kota Jati” diberikan karena Bojonegoro sebagai penghasil pohon jati berkualitas, bahkan menjadi basis industri mebel berkualitas. Sementara julukan “Kota Tayub” mencerminkan popularitas Tari Tayub, sebuah tarian yang diiringi oleh gamelan dan tembang Jawa.

Baca Juga :  Korsleting Listrik, Satu Rumah di Desa Ngujo Terbakar

Namun, pesona Bojonegoro tidak hanya sebatas sejarah dan budaya. Kabupaten ini menyuguhkan destinasi wisata yang beragam, seperti Tambang Minyak Tradisional yang memperlihatkan proses penambangan minyak secara tradisional.

Ada juga Go Fun, destinasi wisata andalan dengan berbagai wahana menarik.

Bukit Cinta Negeri Atas Angin Sekar menjadi primadona bagi pecinta alam, menawarkan pemandangan yang menakjubkan dan momen-momen yang sayang untuk dilewatkan tanpa diabadikan.

Dan itu baru sebagian kecil dari pesona wisata Bojonegoro, termasuk Water Park Dander, Kedung Maor, Watu Gandul, Growgoland, Bendungan Gerak, dan Waduk Pacal.

Tak hanya berhenti di sana, Bojonegoro juga menggoda selera kuliner dengan ragam hidangan lezat. Selain oleh-oleh khas Ledre, terdapat kuliner-kuliner lain yang menjadi daya tarik, seperti Kue Putu, Sego Buwuhan, Nasi Flambe, dan Gethuk Lindri.

Kehadiran kuliner-kuliner ini tak hanya memanjakan lidah warga setempat, tetapi juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung.

Dengan sejarah yang kaya, julukan yang unik, destinasi wisata yang menarik, dan kuliner-kuliner lezat, Bojonegoro mengundang para pelancong untuk menjelajahi kekayaan dan keindahan yang dimilikinya.

Semua keindahan Bojonegoro nampak sempurna dengan keberhasilan Pemkab Bojonegoro pada masa kepemimpinan Bupati Anna Mu’awanah yang memperbaiki jalan poros desa. Hingga Bojonegoro yang dulunya ‘buruk rupa’, kini menjadi ‘cantik jelita’. (sya/rin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *