Pertamina EP Cepu
Serba Serbi

Jejak Adan-Adan

172
×

Jejak Adan-Adan

Sebarkan artikel ini

Oleh : Didik Wahyudi

Adan-adan sebagai nama sebuah wilayah dengan batas-batas yang ditentukan dan bebas pajak. Adan-adan naik status menjadi tanah Sima atau daerah perdikan atau daerah swatantra.

Wilayah tersebut ditetapkan oleh raja pertama Majapahit, Nararyya Sanggramawijaya, Dyah Wijaya atau banyak yang menyebut Raden Wijaya tapi ada yang berpendapat nama Raden belum dikenal di abad 12-13.

Wilayah Adan-adan diberikan kepada seorang Resi, tokoh agama kerajaan yang setia terhadap raja, dengan segala penderitaan. Daerah Adan-adan jika jejak kekinian termasuk luas, seluas dua kecamatan.

Nama tempat di prasasti Adan-adan hingga kini masih ada yakni Tinawun di Kecamatan Malo dan Kawengan di Kecamatan Kedewan.

Lalu disebut juga Jajar, dimanakah lokasi tersebut ? Siang tadi saya mencoba meluncur ke Dusun Jajar di Desa Petak Kecamatan Malo. Di Dusun ini saya mendatangi punden dusun yang tiap tahun-nya digelar sedekah bumi.

Uniknya sedekah bumi di dusun Jajar digelar dengan nanggap Wayang Golek/Thengul tapi syaratnya tanpa pengeras suara. Dalang dan pengrawit memainkan pertunjukan dengan lawaran, tanpa pengeras suara.

Di punden dusun Jajar saya belum menemukan petunjuk jejak masa lalu, di lokasi hanya ada sebuah batu bata modern dan sebuah batu beneran berwarna merah.

Baca Juga :  Diduga Melanggar Etika, Bawaslu Bojonegoro Kaji Banner Sekda Nurul Azizah yang Mencalonkan Diri sebagai Bupati

Lalu bergeser ke Petak atau Desa Petak. Ada yang mengartikan kata Petak dalam bahasa Jawa artinya putih, tapi menurut saya kurang tepat karena tulisannya pake “th” pethak atau bisa jadi mengalami perubahan ejaan. Saya belum tahu.

Bisa jadi Petak artinya bidang, kotak, ruang, bilik. Semisal sepetak sawah, sepetak kamar, petak umpet kira-kira kurang lebih artinya begitu karena ada mitos di desa ini terkait kata Petak yang ndak bisa saya ceritakan disini. Sepetak mitos rahasia.

Bisa jadi wilayah Petak dan Jajar di jaman dahulu satu nama wilayah karena jaman kekinian satu desa, Jajar menjadi Dusun dan Petak menjadi Desa, karena ada cerita dan makam cukup tua disini saya belum bisa bacanya.

Pathoknya bertuliskan huruf Jawa dengan tulisan yang sudah dimakan usia, terbuat dari batu. Dari bentuknya Makam Islam, termasuk dari keluarga orang terpelajar, kabarnya dari Kerajaan Panjang tapi saya belum yakin karena masih berdasar cerita tutur.

Baca Juga :  KAI Tambah Jadwal Kereta Rute Cepu-Surabaya

Itu baru menelisik wilayah batas “Jajar” di prasasti Adan-adan yang begitu rumit dan minim sekali referensi. Tapi ada tambahan informasi soal prasasti Adan-adan sial batas wilayah menyebut Tambar, kabarnya nama wilayah Tambar ini berada di Senori atau berdekatan Kawengan yang disebut dalam prasasti.

Jika benar maka sang resi mendapatkan hadiah tanah perdikan yang luasnya meliputi masuk kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Tuban, meliputi daerah perbukitan di wilayah Malo.

Di akhir prasasti terdapat kutukan bagi siapa saja yang mengubah putusan raja sebagai wilayah perdikan bagi sang Resi yang setia terhadap raja. Kutukannya adalah digigit ular, disamber gledek, diterkam harimau dan hal ngeri lainnya karena jaman itu titah raja adalah sabda.

Lalu saya membayangkan kaitannya dengan mitos yang masih dipercaya beberapa orang di sebuah Desa yang masuk wilayah Adan-adan soal kutukan tersebut. Ini bisa menarik jika dijadikan film fiksi sejarah, film yang berdasar prasasti bukti riil Sejarah jaman Majapahit.

Ah… mbuh ah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *