Serba Serbi

Harga Melambung Tinggi, Benarkah Susu Beruang Obati Covid?

24
×

Harga Melambung Tinggi, Benarkah Susu Beruang Obati Covid?

Sebarkan artikel ini

Suaradesa.co (Bojonegoro) – Belakangan ini, beberapa produk yang diklaim bisa meningkatkan daya tahan tubuh hingga dipercaya bisa menagkal paparan Covid-19 banyak diburu di pasaran. Bahkan, beberapa sulit ditemui hingga jika adapun, harganya telah melambung naik.

Hal yang sama seperti yang pernah terjadi saat pertamakali Covid-19 melanda tanah air. Harga masker yang biasanya di kisaran Rp1000 perlembar atau sekira Rp25.000/dus isi 50 lembar, harganya naik berkali lipat hingga sukit dijangkau.

Namun, saat ini justru para konsumen mengincar Susu Beruang. Beberapa swalayan di Bojonegoro mengaku kehabosan stok. Bahkan, jika masih ada stok, pengelola swalayan akan melakukan pembatasan maksimal pembelian untuk pelanggan.

“Beberapa hari lalu masih dibatasi 6 kaleng per pelanggan dengan harga normal. Tapi sejak Jumat (9/7/2021) kemarin dibatasi hanya 3 kaleng. Itupun barangnya kosong di rak,” keluh April, salah satu pelanggan.

Lalu, benarkah Susu Beruang yang banyak dicari masyarakat ini benar bisa mengobati Covid-19?

Dilansir dari berbagai laman, suaradesa.co merangkum berbagai mitos dan klaim yang dipercaya masyarakat tentang susu beruang :

 1. Tidak obati Covid-19

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban mengatakan, minum susu beruang tak bisa mengobati Covid-19. Zubairi menjelaskan, kandungan susu beruang tidak bisa membunuh virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Artinya, minum susu beruang tak lantas akan membuat pasien Covid-19 sembuh.

“Susu beruang untuk mengobati Covid-19, ya, tentu saja tidak bisa. Susu beruang tak bisa mematikan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19,” kata Zubairi, Minggu (4/7/2021).

Baca Juga :  Sosialisasi 4 Pilar MPR RI untuk Demokrasi Sukses

2. Tidak sembuhkan penyakit

Ahli Gizi Masyarakat Dokter Tan Shot Yen mengatakan susu beruang tak bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti yang dipercaya masyarakat. Asumsi bahwa susu beruang bisa menyembuhkan penyakit seperti demam, flu, batuk, atau lainnya hanya mitos yang menyelimuti produk susu beruang.

“Selama ini overclaim produk enggak pernah dibenahi, publik salah asumsi, literasi gizi publik minim, akhirnya ada kepercayaan-kepercayaan yang dibentuk sebagai opini publik. Apa yang mestinya mitos dijadikan kebenaran. Sebaliknya, fakta ilmiah sama sekali tidak digubris,” tutur Tan Shot Yen.

3. Tidak lebih baik dari susu lain

Tan Shot Yen juga menjelaskan konsumsi susu beruang sama saja dengan minum produk susu lainnya di pasaran. Kandungan gizi yang ada dalam produk susu kemasan di pasaran sama antara satu produk dan lainnya. Kandungan gizi yang dimaksud seperti protein, karbohidrat, kalium, bahkan garam. Beberapa susu kemasan juga mencantumkan kandungan vitamin dan mineral yang terdapat dalam produk susu cairnya.

4. Bukan satu-satunya asupan bergizi P

masa pandemi Covid-19, konsumsi makanan sehat inilah yang semestinya digencarkan. Konsumsi susu memang disarankan sebagai penyempurna makanan 4 sehat 5 sempurna, tapi ini bukan satu-satunya. Di samping itu, produk susu yang dikonsumsi untuk menjaga kesehatan tidak harus susu beruang. Susu cair atau susu bubuk lainnya bisa dikonsumsi untuk menjaga daya tahan tubuh. Tan Shot Yen mengatakan gizi manusia dewasa tidak hanya didorong oleh susu. Jika mencari sumber protein, maka ada banyak makanan lainnya yang menawarkan protein lebih tinggi ketimbang susu.

Baca Juga :  Pemkab Bojonegoro Serahkan Bantuan Pada Petani

“Mau meningkatkan imunitas? Gizi manusia dewasa tidak hanya didongkrak oleh susu. Jika bicara protein, telur juaranya. Sebab ia representasi protein sempurna,” katanya.

5. Sempat tinggi kandungan lemak

Dokter spesialis gizi Samuel Oetoro mengatakan kandungan susu beruang sebenarnya sama saja dengan susu cair kemasan lainnya. Menurut Samuel, pada awal kemunculannya, susu beruang memiliki kandungan lemak yang tinggi. Hal itu yang kemudian dengan memberikan susu beruang pada orang yang sakit akan membuatnya lebih segar karena lemak bisa berubah menjadi energi.

“Susu beruang dari awal muncul sudah terkenal dikasih ke orang sakit. Kenapa orang sakit minum susu beruang jadi seger? Karena kalau dulu susu beruang kandungan lemaknya tinggi, lebih dari 30 persen,” papar Samuel. Susu beruang mulai diperkenalkan pada 1906. Kandungan lemaknya yang tinggi membuat susu beruang kemudian dianggap dapat mengobati orang sakit.

“Orang sakit kan malas makan, dengan masuknya lemak tinggi, lemak diubah jadi tenaga makanya dia segar lagi,” kata Samuel.

Persepsi tersebut yag kemudian masih dipercaya hingga saat ini. Padahal kandungan lemak dalam susu beruang sudah dikurangi sehingga sama seperti susu kemasan lainnya. Kandungan lemak tinggi juga tidak baik untuk kesehatan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *