Suaradesa.co, Tuban – Di sebuah sudut Desa Ngandong, Kecamatan Grabagan, Kabupaten Tuban, kiprah seorang guru TK memantik inspirasi. Namanya Ike Novia Ulva, S.Pd, sosok yang setiap hari harus membagi perannya sebagai pendidik, ibu, sekaligus penggerak literasi di desa terpencil di kaki bukit Grabagan.
Setiap pagi, suasana riuh TK Dharma Wanita menjadi saksi perjuangannya. Di tengah tawa murid-muridnya, sering terdengar tangis pelan balitanya yang harus ikut ke sekolah.
Sambil menggendong anak, kaki Ike tetap sigap bergerak—tangan kanan memegang alat peraga, mata lain mengawasi kedua balitanya di sudut kelas.
Selama 10 tahun mengabdi, sekolah telah menjadi “rumah kedua” baginya—dalam arti sebenarnya.
Keterbatasan fasilitas dan peran ganda sebagai ibu tidak pernah membuatnya goyah. Justru dari sanalah ia menempa semangatnya.
Kerja keras itu akhirnya berbuah manis. Pada peringatan Hari Guru Nasional 2025, Ike tampil memukau di hadapan para juri dengan gagasan bertema “Penguatan Literasi Numerasi dan Anak Disleksia”.
Lewat karya tersebut, ia sukses meraih Juara Terbaik I Guru TK Dedikatif se-Jawa Timur serta Juara III tingkat Nasional.
Tak berhenti di ruang kelas, energi Ike terus mengalir hingga rumahnya. Setiap sore, teras rumah sederhana itu berubah menjadi pusat belajar desa.
Sekitar 60–70 anak mengikuti kegiatan les yang ia kelola bersama tiga guru bantu. Selain mengajar, Ike juga memberi waktu bagi pembangunan desa melalui perannya sebagai anggota BPD Ngandong sejak 2019.
Ike Novia Ulva membuktikan bahwa keterbatasan bukan hambatan. Dari pelosok Ngandong, ia menunjukkan bahwa dedikasi tulus mampu menembus batas dan mengantar seorang guru desa hingga ke panggung prestasi nasional.
“Semoga prestasi ini bisa memotivasi para guru TK lain untuk terus berkarya dan memberi dampak positif bagi pendidikan di Tuban dan Jawa Timur,” pungkasnya. (fa/him)







