Opini

Melajulah Margomulyo

1263
×

Melajulah Margomulyo

Sebarkan artikel ini

Oleh : Didik Wahyudi

Sejak lama Margomulyo sudah seksi dengan potensi tradisi dan kerajinan. Keseksiannya pasang surut dan pula meski wilayahnya lebih banyak hutan tapi saat musim kemarau nampak kerontang. Ada yang mengganjal sih dan diperlukan perlakuan khusus di kecamatan ini.

Intervensi kebijakan untuk mengungkit segala potensi agar bangkit dilakukan, dan beruntung ada orang pusat yang peduli serta bekerjasama secara harmonis dengan pemerintah daerah.

Pemerintah pusat melakukan intervensi kebijakan agar wilayah selatan hingga membujur ke barat tuntas dalam koneksitasnya, maka dibangunlah jalan baru Watu Jago Kecamatan Margomulyo hingga ke Napis Kecamatan Tambakrejo.

Sebagian jalan sudah tuntas nglenyer, sisanya arah Napis masih dalam proses negoisasi pembebasan lahan kanan-kiri untuk syarat lebar jalan Nasional. Dan sebagian juga masih pyur jalan hutan yang nan alami. Selain itu juga jalan Pasar Dawe Desa Bobol Sekar – Karangjati Ngawi.

Selain itu, pun Pemerintah Pusat intervensi kebijakan dengan pembangunan Bendungan Karangnongko, nilaine proyek gak main-main 1 triliun lebih. Diharapkan dengan beresnya koneksitas jalan raya dan ketersediaan air baku, potensi kawasan tersebut diharapkan bangkit berlari. Amin aja dulu, semoga diijabahi.

Oh… Iya lali, Bendungan Gongseng dengan nilai proyek setengah triliun itu juga masuk dalam daftar PSN (Proyek Strategis Nasional). Sementara Bendungan Karangnongko sebenarnya PSN susulan, menurut Menteri PUPR, Dr. Ir. Mochamad Basoeki Hadimoeljono, M.Sc., Ph.D. berkat loby-loby ciamik di Tulungagung langsung disetujui Presiden Jokowi.

Inilah mungkin jawaban kenapa jalan Nasional Bojonegoro-Babat dibangun APBD, jawabannya dan imbal baliknya adalah banyak proyek besar Nasional masuk Bojonegoro. Bendungan Gongseng, Bendungan Karangnongko, Jalan Watu Jago-Napis, pasar Dawe-Karangjati dan masih banyak lagi ke depan dienteni wae gaes onok opo meneh.

Baca Juga :  Dibalik Pelantikan Pengurus DMI di Bojonegoro: Spekulasi Politisasi dan Keberaguan Publik

Peran Pemerintah Pusat bagi Bojonegoro Selatan hingga memanjang ke Barat ini disambut hangat dengan peran Pemerintah Daerah, bahkan Pemerintah Daerah sudah membereskan pembangunan jalan yang nanti nyambung dengan jalan yang dibiayai APBN.

Pun begitu, Bendungan Karangnongko yang akan mulai dikerjakan ini juga sudah didahului dengan pembangunan yang dilakukan Pemkab berupa wisata religi masjid besar nan indah di Desa Sumberjo Kecamatan Margomulyo.

Lokasi Masjid ini satu jalur dengan pusat kerajinan akar jati di Desa Geneng Margomulyo. Pun begitu masih satu jalur dengan wisata budaya komunitas Sedulur Sikep di Dusun Jepang Desa Margomulyo. Pas lagi gabut nyetir, jalur jalan raya yang berkelok-kelok indah ini pernah saya hitung dua kali jumlah kelokannya sekitar 80-90-an kelokan. Dua kali menghitung hasilnya berbeda, mungkin kurang fokus aja.

Maka jika ini beres kelak sekitar tahun 2026, wisatawan bisa ke Bendungan Karangnongko dengan fasilitas yang lengkap lalu geser ke pusat kerajinan akar jati lalu mampir istirahat ataupun beribadah di masjid besar, setelah itu berkunjung ke komunitas Samin untuk belajar berbagai hal dan menikmati keunikan ndik sana.

Tidak itu saja, Desa-desa juga sudah mempersiapkan diri untuk itu, diantaranya menggerakkan BUMDesa untuk wisata rintisan Desa, bisnis BUMDesa untuk ikut bekerja di projek PSN, ada Desa yang sudah meratakam tanah lapang untuk kawasan tertentu dan…. nganu yang lain nanti tak ceritain. Mereka memahami bahwa akan ada peluang besar menunggu di depan, jika tak bergerak mulai sekarang waktu akan menggelinding begitu saja.

Baca Juga :  Tema dan Warna Kaos Jadi Sorotan di HAB ke-78 Kemenag Bojonegoro

Yang terlihat secara kasat mata, jalur Nasional ini mulai Padangan, Ngraho dan Margomulyo tumbuh subur bermunculan bisnis baru mulai dari rumah makan, kafe-kafe, wisata, POM Bensin dan macem-macem lainya. Jalur ini yang semula sepi mulai hiruk-pikuk bertumbuhan bisnis baru. Tumbuh secara organik biasanya akan tahan lama seperti berkembangnya kawasan bersantai MH Thamrin itu.

Potensi peluang tersebut saya pikir harus sudah mulai “dimanajemen” dari sekarang agar kelak jika sudah jadi tinggal jalan lempang kesejahteraan bersama. Berat memang tapi juga tidak susah-susah amat untuk dilakukan, dipelajari, ditelateni, ditaklukkan masalahnya untuk lebih kuat tumbuh lagi dan makin mandiri sebagai kawasan baru nan sedep.

Jajallah pergi-pergi kesana sesekali, apa yang berubah dari sebelumnya, dari Margomulyo. Kasih masukan, kasih dorongan, atau nanam investasi kesana juga bisa lho mumpung masih banyak peluang.

Ya contohnya bikin villa penginapan ndik sana kan sangat cocok, villamu sudah jadi mendahului maka brandingmu lebih dulu menguat sebelum benar-benar Margomulyo berubah. Karena sudah ada wacana beberapa pihak akan bikin penginapan disana untuk menyambut para tamu yang ingin menikmati suasana Margomulyo yang syahdu dengan jalan kelokan seribu-nya. Eh…. emang seribu kelokannya ? Itung dewe ges. (dik/rin)

*Penulis merupakan salah satu pegiat desa dan mantan jurnalis TV Lokal di Bojonegoro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *