Opini

Belajarlah Pada Seni Tradisi

83
×

Belajarlah Pada Seni Tradisi

Sebarkan artikel ini

Seni tradisi sudah melewati pahit getir dan manis dalam perjalanannya mempertahankan diri secara alamiah. Melewati kehidupan sosial, politik, ekonomi hingga bagaimana mempertahankan “periuk kesenian” untuk tetap bertahan dengan segala kreativitas.

Mereka sudah adaptif tapi tetap mempertahankan ciri khasnya hingga tahu mana bedanya pertunjukan seni tradisi wayang kulit mana pertunjukan jaranan. Secara kreativitas pertunjukan tentu beda dan penonton mafhum soal itu.

Adaptif adalah persoalan yang rumit dalam egoisme kreativitas tapi hanya yang maestro saja yang bisa menuntaskan, mempertemukan dan mengolah dengan baik.

Adaptif dan idealisme bisa disatukan untuk eksistensi, bisa juga dibedakan pun dipisahkan untuk eksistensi, tapi tetap akan melewati ujian waktu. Apa sih yang tidak diuji dengan waktu ? Nyaris semuanya karena semuanya di dunia pasti yang fana’.

Hanya yang maestro yang memahami itu, hanya yang maestro yang terus bekerja dalam dunia nan sepi kreativitas. Dan para maestro seni tradisi sudah membuktikan tanpa harus manja menuntut pihak lain memfasilitasi. Karena maestro tahu bagaimana bekerja dalam kreativitas, ia punya idealisme, adaptasi, kreativitas, kerja keras dan tentu saja pelestari. Maestro memang punya kemampuan lengkap dalam bidangnya.

Seni tradisi bisa berkelompok dengan baik hingga kini, meski tak dipungkiri ada saja persoalan dalam kelompok. Tapi puluhan tahun kelompok-kelompok kesenian tradisi bertahan hingga sekarang, melewati waktu yang panjang. Ia bertahan dan eksis, menyusuri perjalanan kesenian ke pelosok hingga ke kota besar.

Sebuah diskusi kecil pernah mengungkap saat elektone menyerbu ke berbagai penjuru wong ewoh, perayaan, tanggapan dan lain sebagainya dan wayang kulit tetap bertahan dengan ceruk pasarnya sendiri. Dan wayang kulit bertahan dengan adaptasi pun ada wayang kulit pure yang juga masih bertahan dengan segmen tertentu. Ingar-bingar elekton masih lanjut pun wayang kulit masih lanjut.

Belajarlah pada seni tradisi yang tak manja dan terus bekerja menghadiri perayaan-perayaan dan penyadaran-penyadaran dengan tetap membawa identitas. Ia terus berjalan dengan segala keterbatasan pun kelonggaran, tak terbuai meski itu menggoda.

Lalu ?

Bagi pemangku kebijakan menguatkan mereka melalui kuasa anggaran tentu akan lebih baik, tapi pun perlu misalkan bentuknya alat-alat, pelatihan-pelatihan manajemen kesenian, pelatihan kesenian lainya meski pun kelompok-kelompok kesenian tradisi sudah punya manajemen turun-temurun.

Baca Juga :  Coretan Pilok Pedagang Kaki Lima, Goresan Luka di Jalan Utama

Diperlukan pelatihan sebagai dialektika pengetahuan, pelatihan sebagai ruang dialog dan diskusi bisa jadi itu sangat diperlukan untuk menatap dan menata masa depan. Selain kelompok seni tradisi pun diperlukan misalkan pelatihan-pelatihan juga menyasar sanggar seni, kelompok seni, komunitas dan laine.

Atau memungkinkan mulai adanya kuratorial seni tradisi di Bojonegoro yang merawat, menjaga, memilihara, memperhatikan, membenahi, mengawasi, sampai menyuguhkan kembali dalam sebuah pertunjukan mahakarya yang keren.

Kurasi seni tradisi ini diperlukan sebagai sisi lain gerak pemberdayaan pelatihan, revitalisasi dan memandang jauh seni tradisi sebagai identitas Bojonegoro. Kurasi seni tradisi inilah yang akan menjaga bagaimana seni tradisi ditampilkan secara apik, menjadi pertunjukan yang sedap dinikmati selain juga penyampai pesan-pesan nilai dan menjaga marwah seni tradisi makin jos gandos kotos-kotos.

Ini diperlukan dibanding hanya kebutuhan fisik belaka misalken gedung, karena apa ? Mereka sudah punya tempat pertunjukan yang sangat luas sekali dan adaptif. Kelompok kesenian tradisi ini bisa pentas dimana saja menyesuaikan tempat dan bisa bikin tempat pertunjukan secara mandiri. Faktanya kelompok-kelompok seni tradisi inilah yang paling eksis dan bertahan hingga sekarang, adaptif pula untuk tempat pertunjukan.

Mereka bisa membikin panggung pertunjukan dimana saja saking adaptifnya, kesenian tradisi bisa pentas dimana saja. Bahkan ada salah satu jenis kesenian tradisi kalau pentas di dalam gedung malah agak mencari usaha keras contohe sandur kalongking.

Tapi kalau kesenian tradisi oklik yang sudah sah milik Bojonegoro tercatat Kemenkumham dalam Inventarisasi Kekayaan Intelektual Komunal Ekspresi Budaya Tradisional dengan nomor pencatatan EBT35202200234, masih bisa menggelar pertunjukan dimana saja. Pokok ada panggon bisa memainkan musik dengan suara khas.

Sandur yang juga sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2018 dengan nomor registrasi 201800735, sebagai kesenian tradisi yang masih disukai rakyat agak kesulitan masuk gedung pertunjukan jika kondisi gedung sudah disetting secara modern, karena harus memasang arena atraksi berupa dua bambu berdiri tegak dengan ujung atasnya tali sebagai panggung atraksi, atau kalongking. Atau mungkin ada inovasi sandur kalongking portabel yang bisa dibawa masuk gedung dan dibuat di tanah lapang.

Baca Juga :  Tim AMIN Jatim Yakin Menang Pilpres 2024 dalam Satu Putaran

Pun begitu, jika mengundang tamu untuk pertunjukan seni juga sangat bisa difasilitasi tanpa harus syarat gedung tertentu. Gedung pertemuan ada bisa disetting sebagai tempat pertunjukan, pun banyak tempat lapang yang bisa dijadikan tempat pertunjukan dengan mendirikan panggung rigging misalken.

Kesenian tradisi yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat dengan segala persoalan, menampung keluh kesah masyarakat lalu menjadi sebuah karya, kesenian yang tumbuh secara organik dari kedalaman hati masyarakat. Ia mewujud dan menyesuaikan jaman agar terus bertahan hingga kini. Cara bertahan itulah yang tetap harus mempertahankan warna tradisi sebagai kekhasan seni tradisi itu sendiri, jika tidak tentu agak sulit mengenali dengan baik.

Seberapa produktif kah ?

Tidak fokus ke bangunan fisik gedung, tapi lebih ke intervensi kebijakan pemberdayaan kelompok seni, sanggar seni, komunitas dan mengembangkan kuratorial akan merangsang produktivitas bersama berbagai karya seni bak musim bunga tumbuh dengan warna-warninya yang sedap.

Jika dua hal ini sudah dilakukan serta produktivitasnya terjaga dengan baik barangkali kita bisa berbincang lagi lebih tehnis soal bangunan yang representatif untuk pertunjukan yang bagus lewat kuratorial yang sudah dibangun. Daripada bangunan mangkrak karena tak terjaga rutinitas pertunjukan dan kwalitas produk karya jadi suwung terus dienggoni demit, gendruwo, pocong, kuntilanak, wewe gombel, pye ? hehehehehehe

Sebenarnya Pemkab sudah membangun fasilitas gedung pusat kreatif yang meliputi 16 sub sektor diantaranya aplikasi dan pengembangan permainan, arsitektur, desain produk, fashion, desain interior, desain komunikasi visual, seni pertunjukan, film, seni rupa, animasi, video fotografi, televisi dan laine. Dulu Gedung pusat kreatif ini dibawah pengelolaan Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja lalu dilanjutkan dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Tak kiro gedung Iki iso dimanfaatkan untuk pertunjukan, ruang pameran, pertunjukan titer, laboratorium seni, proses kreatif dan lain sebagainya. Tapi kayaknya nganu setelah peristiwa nganu, padahal bangunan tersebut untuk semua pelaku kreatif. Tak kiro begono….

Oklik ? Oklik donggg …..

Didik Wahyudi

(Penulis Novel Pulang ke Desa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *