Pertamina EP Cepu
Nasional

Gus Baha dan Pandangan Internasional tentang Tahlilan

314
×

Gus Baha dan Pandangan Internasional tentang Tahlilan

Sebarkan artikel ini
KH Ahmad Bahauddin Nursalim
KH Ahmad Bahauddin Nursalim

Jakarta – Dalam sebuah pengajian yang disampaikan melalui kanal YouTube @InY0ng215, Gus Baha mengangkat isu seputar tahlilan dengan menegaskan bahwa praktik ini bukan sekadar tradisi lokal, melainkan memiliki landasan yang diakui dalam skala internasional atau dunia.

Gus Baha, atau KH Ahmad Bahauddin Nursalim, memulai ceramahnya dengan menjelaskan bahwa tahlilan bukanlah sesuatu yang hanya berakar dalam tradisi lokal, tetapi juga didukung oleh pandangan ulama besar Islam seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim.

Menurutnya, Ibnu Taimiyah secara khusus membenarkan kebolehan membaca Al-Quran dan mendoakan mayit melalui surah-surah seperti Yasin, Fatihah, atau tahlil.

Baca Juga :  Ketua KPU Hasyim Asy'ari Dipecat DKPP Akibat Pelanggaran Etik

“Dalam pandangan Ibnu Taimiyah, tahlilan adalah bagian dari ibadah yang sah dalam Islam,” ujar Gus Baha, menekankan pentingnya memahami bahwa praktik ini memiliki dasar keagamaan yang kokoh.

Gus Baha juga menyoroti persepsi yang keliru bahwa tahlilan hanya sebagai ritual lokal tanpa dukungan ulama dunia.

Beliau menegaskan bahwa pandangan Ibnu Taimiyah membuktikan sebaliknya, di mana tahlilan diakui sebagai bagian dari warisan keilmuan Islam yang melintasi batas-batas geografis.

“Pandangan Ibnu Taimiyah memperkuat bahwa tahlilan adalah wujud penghormatan kepada mayit dan ibadah yang diterima di hadapan Allah SWT,” tambahnya.

Baca Juga :  Menguatkan Sinergi Kajian dan Aktivisme Feminisme Indonesia di Tengah Politik Oligarki Nasional dan Fasisme Global

Dengan demikian, Gus Baha mengajak umat Islam untuk memahami tahlilan sebagai bagian integral dari tradisi keagamaan yang diakui secara global, bukan hanya sebagai praktik lokal.

Ia berharap bahwa pemahaman ini dapat menguatkan spiritualitas umat Islam dan memperkuat koneksi dengan alam baka.

“Pemahaman yang mendalam terhadap tahlilan akan membawa kita pada ibadah yang lebih berarti dan mendalam,” pungkasnya.

Gus Baha, mengakhiri pengajian tersebut dengan harapan agar umat Islam dapat mengambil hikmah dari pandangan Ibnu Taimiyah untuk menjalankan ibadah dengan keyakinan yang kuat. (abi/rin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *