Kabar Desa

EMCL & Ademos Dorong UMKM Cepu Berstandar untuk Terobos Pasar Lebih Luas

×

EMCL & Ademos Dorong UMKM Cepu Berstandar untuk Terobos Pasar Lebih Luas

Sebarkan artikel ini

Suaradesa.co. Bojonegoro – Di tengah tantangan pasar yang semakin menuntut kualitas dan jaminan higienitas, puluhan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, mendapatkan bekal penting untuk naik kelas.

ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama Ademos menggelar pelatihan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan kebersihan produksi bagi para penggerak ekonomi lokal, sebagai bagian dari program pengembangan sarana dan pemasaran UMKM di Blora.

Pelatihan ini bukan sekadar rutinitas pelatihan, tetapi intervensi strategis untuk menjawab tantangan utama UMKM: menjaga konsistensi kualitas dan membangun kepercayaan konsumen.

Melalui materi yang dikemas praktis, peserta diajak memahami pentingnya SOP dalam menjaga mutu produk agar seragam, aman, dan memenuhi standar higienitas yang diakui pasar.

Dalam sesi pelatihan, peserta dibekali panduan teknis mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan yang aman, hingga standar kebersihan diri dan peralatan.

Pendekatan ini diarahkan agar pelaku usaha rumahan dapat bertransformasi menjadi produsen yang siap bersaing di pasar modern.

Ali Mahmud, Public and Government Affairs ExxonMobil Cepu Limited, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata komitmen perusahaan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.

“Kami di EMCL tidak hanya fokus pada energi, tetapi juga pada energi yang menggerakkan masyarakat—yakni kemandirian ekonomi. Pelatihan SOP dan higienitas ini adalah fondasi. Kami percaya, produk-produk UMKM Cepu yang konsisten higienis tidak hanya akan menguasai pasar lokal, tetapi juga memiliki daya saing di pasar yang lebih luas,” ujarnya.

Sementara itu, Ahmad Shodiqurrosyad (Arsyad), Ketua Ademos, menyoroti bahwa tantangan terbesar UMKM bukan terletak pada kreativitas, tetapi pada kemampuan menegakkan standar produksi.

“Kreativitas tanpa SOP akan menghasilkan produk yang tidak konsisten. Produk makanan tanpa jaminan higienitas akan selamanya terjebak di pasar terbatas. Kami dan EMCL ingin memberikan ‘paspor’ agar produk mereka layak terbang lebih jauh. Paspor itu adalah SOP dan sertifikasi higienitas,” jelasnya.

Dwi Wulan Utami, pemilik usaha camilan Sigeyong, menjadi salah satu peserta yang merasakan manfaat langsung dari pelatihan ini.

“Selama ini kami memproduksi berdasarkan kira-kira dan kebiasaan. Sekarang kami paham mengapa produk cepat basi atau kualitas tidak stabil. Dengan SOP, kami jadi lebih percaya diri untuk mengurus izin edar dan menjangkau toko-toko modern,” tuturnya.

Melalui kegiatan ini, EMCL dan Ademos berharap lahir UMKM Cepu yang tidak hanya “bisa membuat produk”, tetapi juga “layak jual” di pasar kompetitif.

Pelatihan ini diharapkan menjadi titik awal perubahan mindset dan praktik bisnis yang lebih profesional, dengan pendampingan lanjutan agar penerapan SOP dan standar kebersihan berjalan konsisten dan berkelanjutan.(mir/him)