HeadlineKabar Desa

Desa Sidodadi Manfaatkan Burung Hantu Untuk Kendalikan Hama Tikus

34
×

Desa Sidodadi Manfaatkan Burung Hantu Untuk Kendalikan Hama Tikus

Sebarkan artikel ini

Suaradesa.co (Sidodadi) – Guna mengurangi potensi serangan hama tikus di lahan padi, petani di Desa Sidodadi, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur memanfaatkan keberadaan Burung Hantu sebagai predator alami tikus. Untuk menjaga keberadaan burung hantu di wilayahnya, pemerintah desa setempat telah memasang hingga 650 Rumah Burung Hantu (RBH) di area persawahan.

Sekretaris Desa Sidodadi, Moh Ali Mustofa menuturkan bahwa Pemdes dan masyarakat sudah melakukan berbagai cara untuk mengatasi hama tikus di wilayahnya. Mulai dari gropyokan (menangkap tikus secara bersama-sama), pengasapan dengan belerang di setiap lubang tikus, serta umpanisasi massal.

“Namun hasilnya masih belum maksimal,” imbuhnya.

Dengan masukan dari Dinas Pertanian dan mencontoh desa-desa lain, pemdes dan para petani mencoba pengendalian hama tikus dengan RBH. Cara ini dimulai dengan petani mendirikan rumah burung hantu di tengah sawah dan membiarkan burung hantu datang dengan sendirinya dan menempati rumah tersebut.

Baca Juga :  Dinkes Beri Pelatihan KIE Bagi Pengusaha Kuliner

“Awalnya hanya tiga sampai empat ekor. Lama-kelamaan semakin banyak yang datang dan semakin berkembang biak,” lanjutnya.

Ia menuturkan, untuk program RBH ini pemerintah desa menganggarkan dari APBDes tahun 2017 sebanyak 30 unit, 2018 sebanyak 23 unit, dan 2019 sebanyak 10 unit. Totalnya di tahun 2020 ini dari luas lahan 350 hektare sekitar ada 650 titik yang terpasang RBH.

Bukan tanpa kendala, pemanfaatan RBH juga membutuhkan usaha ekstra dari para petani pemilik lahan. Petani harus menjaga kebersihan RBH dari kotoran yang menumpuk. Jika tak dibersihkan secara berkala, kotoran yang menumpuk akan membuat RBH semakin berat dan rawan roboh.

Penggunaan RBH ini diakui Kepala Dinas Pertanian Bojonegoro, Helmy Elizabeth sesuai dengan surat edaran tentang pelarangan penggunaan jebakan tikus beraliran listrik. Surat Edaran ini muncul lantaran adanya kejadian tewasnya sekeluarga petanilantaran tersengat listrik yang dialirkan di jebakan tikus di Desa Tambahrejo, Kanor beberapa waktu lalu.

Baca Juga :  Pasar Ngawen Direvitalisasi 4 Juli, 138 Pedagang Siap Berkemas

Baca Juga : Usai Takziah, Ini Tindakan Bupati Untuk Cegah Adanya Korban Jebakan Tikus

“Maka dari itu saya mengimbau kepada para petani untuk beralih kepada pengendalian hama tikus yang lebih aman dan efesien. Salah satu contohnya adalah pengendalian hama tikus dengan RBH,” katanya.

Pada tahun 2018 dan 2019, lanjutnya, Disperta Bojonegoro telah memberi bantuan RBH kepada tiga desa di Kecamatan Sukosewu yaitu Desa Pacing, Duyungan dan Kalicilik.

“Untuk tahun 2021 kami juga sudah mengalokasikan untuk bantuan RBH, dan untuk harapan kedepan semoga desa-desa lain dapat mencontohnya,” pungkasnya.(*ly)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *