Home / Headline / Kabar Kota

Jumat, 28 Agustus 2020 - 11:06 WIB

SKK Migas Gelar Webinar dengan 70 Jurnalis se-Jabanusa

Suaradesa.co (Bojonegoro) – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Perwakilan Jawa-Bali-Nusa Tenggara (Jabanusa) menggelar Pelatihan Jurnalistik secara Webinar.

Webinar digelar selama lima kali pertemuan pada Kamis (27/8/2020) hingga Desember 2020 mendatang. Untuk materi yang pertama kali dibahas adalah Pelatihan dan Praktek Penulisan Berita Features atau Indepth.

Acara ini diikuti 70 peserta ini menghadirkan narasumber yang berkompeten, yaitu Dr. Nanang Krisdinanto, M.Si, seorang pakar Komunikasi di UKWM Surabaya.

Kepala SKK Migas Perwakilan Jabanusa, Nurwahidi, mengungkapkan, ingin terus menjalin komunikasi dan kordinasi dengan para jurnalis yang selama ini telah terbentuk dengan sangat baik.

“Kami menginginkan jalinan komunikasi yang dilakukan oleh SKK Migas dengan para awak media ini tetap dan terus berjalan harmonis,” tukasnya.

Sementara itu, dalam materinya, Nanang Krisdinanto mengatakan, teknis dalam pengelolaan data yang kemudian dikelola menjadi sebuah cerita yang menarik.

Baca Juga :  Update sebaran Covid-19 di Kabupaten Bojonegoro Per-Tanggal 13 Juni 2020

“Kalau mau media kita maju, jangan takut tidak ada yang membacanya. Karena features menjadi salah satu skill dalam menulis,” ujarnya.

Membuat sebuah features yang menarik ada banyak cara, namun bagaimana agar penulis ini mampu menggambarkan keadaan yang sebenarnya dan mudah dipahami oleh para pembaca.

“Pertama, gali dari objek liputan melalui pandangan, suara, rasa, bau dan perasaan. Kemudian tulislah tanpa menggunakan kata melihat, mendengar, membaui atau merasa,” terang Nanang.

Dalam sebuah features dilarang menggunakan kata sifat, seperti ‘Perempuan itu menggigil’ tetapi penulisan yang benar adalah ‘Bibir perempuan itu membiru dan tubuhnya menggigil’.

“Hal itu dilakukan, guna menggambarkan kondisi objek yang akan ditulis,” tukasnya.

Membuat features, harus menggunakan kata yang spesifik dan tidak umum, seperti halnya ‘Ada seekor burung diluar ruangan’ dan yang lebih tepat adalah ‘Seekor burung merpati hinggap di atas besi hotel’.

Baca Juga :  Strategi Bupati Bojonegoro Tangani Kemiskinan Ekstrem Tahun 2021

“Hal tersebut dimaksudkan, agar apa yang kita tulis tidak menimbulkan kebingungan dan pertanyaan lagi dari para pembaca,” lanjutnya.

Lalu, jangan menggunakan kata yang abstrak agar lebih jelas serta menjelaskan bahwa dalam penulisan kutipan, harus dibiarkan secara jelas dan tidak boleh dipotong agar bisa menggambarkan dirinya sendiri.

Webinar yang dipandu oleh Imam Dwi Meinara ini mendapatkan banyak tanggapan dan pertanyaan dari peserta. Salah satunya Sasmito, dari media online SuaraBojonegoro.com yang merasa masyarakat sekarang jenuh dengan tulisan yang panjang.

“Masyarakat sekarang ini lebih tertarik pada straight news,” ungkapnya.

Pendapat lain berbeda lagi, Subhan, dari Radar Blora, mengungkap, jika kecanggihan teknologi sekarang ini membuat jurnalis enggan turun lapangan.

“Kebanyakan, wawancara lewat telepon dan itu menjadi kendala karena features membutuhkan banyak data,” tegasnya.(*rin)

Share :

Baca Juga

Headline

Ketua DPRD Dorong Re-Negoisasi PI Blok Cepu

Headline

Pansus IV DPRD Bojonegoro Jadwalkan Ulang Pembahasan Raperda Disabilitas

Headline

Update sebaran Covid-19 di Kabupaten Bojonegoro Per-Tanggal 5 Juni 2020

Headline

Bersama Bank Indonesia Farida Hidayati Memberikan Bantuan Stimulus, Kurangi Beban Masyarakat

Kabar Kota

Inilah 5 Kader Yang Ditetapkan Sebagai MD KAHMI Bojonegoro 2021-2026

Headline

Gedung DPRD Bojonegoro Akan Mulai Dibangun di 2021

Headline

Pembelian Pertalite Pakai Jeriken Harus Dengan Rekomendasi

Kabar Kota

Reses, Ahmad Supriyanto Terima Masukan dan Indeks Kepuasan Masyarakat Pada Program Pemkab Bojonegoro