Headline

Sekolah Daring, Iqbal Manfaatkan Waktu Luang Produksi Keripik Debog

33
×

Sekolah Daring, Iqbal Manfaatkan Waktu Luang Produksi Keripik Debog

Sebarkan artikel ini

Suaradesa.co (Bojonegoro) – Usia 18 tahun adalah usia keemasan seseorang untuk mengembangkan bakat. Hal itu dilakukan Iqbal Maulana kala sekolah daring. Waktu luang setelah sekolah daring dimanfaatkan Iqbal untuk berbisnis keripik debog bersama teman sebayanya. Omzetnya kini capai satu hingga dua juta rupiah.

Iqbal, sapaan akrabnya mengatakan ide awal muncul ketika awal pandemi di 2020. Sistem pembelajaran yang berubah menjadi daring membuat Iqbal resah berada di rumah saja. Kala itu ia masih menempuh jenjang SMA kelas 11. Tak sengaja lewat di laman TikTok-nya, Iqbal menemukan kiat-kiat dan tips menjadi pengusaha dan ia mulai tertarik.

Baca Juga :  SKK Migas Gelar Webinar dengan 70 Jurnalis se-Jabanusa

“Aku tiba-tiba kepikiran, cita-cita apa yang gak melulu pakai nilai akademik dan akhirnya ketemu kalau aku pengen jadi pengusaha,” ungkap remaja berusia 18 tahun itu.

Iqbal kemudian melakukan riset dan melihat peluang bisnis apa yang belum ada di daerah rumahnya, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro. Dia pun mulai survei dengan teman-temannya mengenai olahan debog pisang. Iqbal menggunakan pelepah pisang kepok atau pisang sobo dan mendapatkannya dari supplier. Bermodal dari uang tabungannya sendiri, Iqbal bersama teman dekatnya, Pam membuat produk keripik debog yang diberi nama Pamau Food (Pam dan Maulana).

“Pas tanya ke teman-teman, mereka bilang, loh mosok iso debog iku dadi panganan? Terdengar aneh memang, tapi mereka harus coba dulu rasanya,” ungkapnya.

Baca Juga :  Dianggap Sepele, Produksi Baju Kucing Raih Omset Puluhan Juta

Seminggu melalui masa trial and error dan promosi melalui WhatsApp, Instagram, TikTok (@iq.balmaulana), dan gethok tular, Iqbal telah mengirimkan produknya hingga ke Surabaya, Sidoarjo, Bogor, Lamongan, dan Jakarta.

Meski sempat mengalami kerugian di awal penjualannya, kini produk keripik debog miliknya bisa menghasilkan omzet kisaran satu hingga dua juta per bulan dengan rata-rata penjualan 100 produk setiap minggunya.

“Dalam waktu dekat ini, ingin memiliki dapur produksi sendiri dengan menyewa tempat, mendirikan outlet, dan memiliki banyak reseller,” tuturnya.(*rin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *