FeaturesHeadline

Saminisme Masa Kini di Era Modernisasi

281
×

Saminisme Masa Kini di Era Modernisasi

Sebarkan artikel ini

 

Suaradesa.co (Bojonegoro) – Suku Samin adalah salah satu suku di Indonesia yang masih bertahan dan kental akan adat istiadat dan budayanya hingga kini.

Suku Samin merupakan warisan budaya yang masih mempertahankan keyakinannya namun tetap mampu mengikuti perkembangan zaman.

Kata Samin dalam bahasa Jawa memiliki artian atau makna negatif yaitu orang-orang nyleneh atau orang-orang menyimpang.

Masyarakat Samin lebih suka menyebut diri mereka dengan Sedulur Sikep, yang lebih memberikan artian tentang persaudaraan kental.

Di Bojonegoro, Orang Samin mendiami Dusun Jipang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo. Salah satu kecamatan yang terletak di bagian paling barat kabupaten ini, berbatasan langsung dengan Kabupaten Ngawi.

Pada Agustus 2019 lalu, Pemerintah Bojonegoro meresmikan Tugu Prasasti Sedulur Sikep Samin.

Tugu itu sebagai simbol bahwa Orang Samin di Dusun Jipang, Kecamatan Margomulyo merupakan bagian tak terpisahkan dari peradaban budaya Bojonegoro.

Saminisme atau Ajaran Samin merupakan ajaran Samin Suronsentiko, yang bernama asli Raden Kohar, kelahiran Desa Ploso Kedhiren, Randublatung tahun 1859.

Ajaran ini menyebar di daerah Jawa Tengah, namun konsentrasi terbesarnya berpusat di daerah Blora, Jawa Tengah dan Bojonegoro, Jawa Timur.

Baca Juga :  Pertamina EP Asset 4 Sukowati Field Latih PKK Desa Sambiroto

Bermula dari ketidaksukaannya terhadap penjajahan yang ada di Indonesia baik itu penjajahan Belanda maupun penjajahan Jepang, sehingga suku Samin membuat pergerakan sendiri yang mencerminkan sikap anti-penjajahan.

Namun, jauh seperti apa yang kita bayangkan, jika biasanya sikap sekelompok orang anti-belanda akan terbayang memiliki sikap yang garang dan keras, jauh berbeda dengan sikap orang-orang di suku Samin.

Masyarakat suku Samin dikenal akan sikap polos lugunya serta kejujurannya. Mereka mengobarkan semangat terhadap perlawanan penjajahan Belanda saat itu, namun dalam bentuk lain, selain kekerasan.

Suku samin memiliki strategi yang unik dalam melawan penjajahan, yaitu berupa penolakan terhadap segala rupa peraturan yang dibuat saat masanya, atau peraturan yang dibuat saat pemerintahan kolonial seperti menolak untuk membayar pajak.

Orang diluar suku Samin sering kali menganggap mereka sebagai kelompok yang lugu karena kepolosannya dan kebiasaannya yang tidak suka mencuri.

Derasnya arus modernisasi sekarang ini, tidak lantas membuat masyarakat Samin melupakan adat istiadat terutama di Kecamatan Margomulyo.

Baca Juga :  Sosialisasi 4 Pilar, Farida Hidayati Sampaikan Pentingnya Wawasan  Kebangsaan

Keturunan Samin Surosentiko, Bambang Sutrisno mengakui hal itu. Adanya modernisasi seperti era digital justru diartikan sebagai sarana dalam menyebarluaskan kebaikan dari ajaran suku Samin.

“Juga, masih adanya warga yang masih menggunakan jarik atau selendang dan ikat kepala atau biasa disebut udheng,”imbuhnya.

Sekarang ini, penggunaan udheng dan selendang kembali digalakkan bagi masyarakat di Kecamatan Margomulyo terutama bagi generasi muda sebagai cara melestarikan budaya.

“Ini saya menggunakan motif obor sewu untuk corak udheng dan selendangnya,”tukasnya.

Udheng dan selendang bisa digunakan masyarakat dalam acara-acara tertentu. Selain itu, bisa dijadikan souvenirs bagi wisatawan lokal yang berkunjung ke Margomulyo.

“Pakai udheng ini juga ada artinya, salah satunya meluruskan pikiran yang kadang tidak benar,” imbuhnya.

Dalam menanggapi Pandemi Covid-19, orang Samin juga memiliki arti sendiri. Adanya virus Covid, diwajibkan menggunakan masker.

“Masker yang menutup mulut dan hidung karena memang terkadang udara ataupun makanan yang dihirup dan dimakan bukan hak kita,” pungkasnya.(*rin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *