Features

Perempuan Tangguh Pencari “Emas Hitam” di Sumur Tua

162
×

Perempuan Tangguh Pencari “Emas Hitam” di Sumur Tua

Sebarkan artikel ini

Suaradesa.co (Bojonegoro) – Banyak kaum hawa terpaksa bekerja untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Meski di era modern sekarang ini, namun, masih ada yang rela bergumul dengan lumpur dan lantung (minyak mentah) dari sumur tua.

Minyak mentah di sumur tua telah bertahun-tahun menjadi “emas hitam” yang mampu menjadikan kawasan ini disebut Texas Wonocolo.

Rasmi, wanita 56 tahun asal Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, puluhan tahun menjadi penambang di sumur tradisional demi menambah pendapatan keluarga.

“Saya ikut nambang suami itu, sejak anak-anak masih kecil,” ujarnya kepada Suaradesa.co, Jumat (22/4/2022).

Karena jarak antara rumah dan sumur hanya sekitar 500 meter, Rasmi berangkat jalan kaki untuk mulai bekerja pukul 08.00 Wib hingga beranjak senja.

“Satu hari tidak tentu hasilnya, sekarang ini sehari hanya mendapatkan minyak mentah dua drum saja,” imbuhnya.

Baca Juga :  Datrap, Pria Paruh Baya yang Dikelilingi Beragam Pohon Buah

Kondisi sumur tua di Desa Wonocolo sudah tidak lagi sama dengan 10 tahun yang lalu. Jika dulu minyak mentah masih berlimpah, sekarang hanya sisa-sisanya saja.

Naik-turun sungai kecil untuk mengambil aliran minyak kemudian memisahkannya. Mengambil berember-ember minyak lalu menuangkan ke dalam “bull” atau drum besar, mengawasi pekerja lainnya saat mengambil minyak dari sumur adalah pekerjaan sehari-hari nenek dari dua cucu ini.

“Kebetulan, satu sumur ini dikelola orang banyak dan saya ketuanya,” tukasnya.

Dia menceritakan, dari hasil penambangan minyak tersebut dikelola Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS). Dari PT BBS akan menyetorkan kepada pemilik Wilayah Kerja Penambangan (WKP) sumur tua, Pertamina EP Field Cepu.

“Ada ongkos yang diberikan pada para penambang sekitar Rp3.600 an per liter,”tukasnya.

Sebanyak 300-400 barel per hari (Bph) yang dihasilkan dari sumur tua peninggalan masa penjajahan Belanda itu, tidak lepas dari tangan-tangan kekar wanita perkasa seperti Rasmi. Bahkan, bisa jadi dari 250 sumur yang masih berproduksi per April 2022 ini masih ada tangan-tangan kaum hawa yang ikut bergulat mencari lantung demi mengais rejeki.

Baca Juga :  Pengabdian Mahasiswa KKN Tematik Universitas Trunojoyo Madura di Desa Ngrawoh

Sementara itu, Manager Hukum dan Umum PT BBS Bojonegoro Budi Witoyo membeberkan jika ada sebanyak 493 sumur di Desa Dangilo, Wonocolo dan Ngrayong Kecamatan Kedewan yang dikelola BBS. PT BBS berkontrak dengan Pertamina Cepu Field untuk menyetorkan minyak sesuai target.

Dengan adanya faktor alam, pihaknya telah berupaya meningkatkan produksi minyak dari sumur tua salah satunya mengakomodir kebutuhan penambang dalam pengajuan reaktifasi sumur.

“Sehingga hasil minyak bisa dikirim ke MGS Menggung PT Pertamina EP Field Cepu,”pungkasnya. (ririn wedia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *