iklan skk-emcl

Home / Energi

Jumat, 29 Juli 2022 - 08:03 WIB

Para Pelaku Industri Migas Indonesia Apresiasi Perempuan Perajut Bojonegoro dan Tuban

Suaradesa.co (Bojonegoro) – Kelompok Perempuan Indonesia Merajut (PRIMA) Kabupaten Bojonegoro dan Tuban kembali mendapat pengakuan. Setelah sebelumnya menyabet penghargaan dalam Indonesia Sustainable Development Goals Award (ISDA), kini mereka mendapatkan penghargaan dari Forum Kapasitas Nasional. Sebuah ajang berkumpulnya para pelaku industri hulu minyak dan gas bumi serta perusahaan-perusahaan pendukungnya.

Penghargaan diberikan oleh Ketua Pelaksana Forkapnas 2022, Fery Sarjana di Jakarta Convention Center pada Kamis (28/7/2022). Koordinator Perajut Bojonegoro, Hartini berkesempatan menerima penghargaan ini bersama koordinator perajut Tuban, Siti Wedok Lestari.

“Kami sangat bangga bisa hadir di sini dan mendapatkan penghargaan,” ucap Hartini.

Kelompok Perempuan Indonesia Merajut (PRIMA) merupakan perwakilan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah dari Jawa Timur yang lolos dari seleksi pra Kapnas di Surabaya pada Mei lalu. Dalam Forkapnas yang berlangsung pada 27-28 Juli di Jakarta, 12 dari 45 UMKM perwakilan seluruh daerah, terpilih mendapat penghargaan.

Baca Juga :  Optimasi Pengembangan Lapangan Tahap-2 WK Rokan Disetujui, Tambah Investasi Hulu Migas Rp35 Trilyun

“Kami sangat bangga dan terharu. Di sini kami mendapat banyak pengalaman baru,” imbuh Hartini.

Hartini mengatakan bahwa penghargaan ini bukan untuk dirinya, namun untuk para perempuan di Bojonegoro dan Tuban yang berani terus berkarya demi kemandirian perempuan. Lebih dari 200 perajut di dua kabupaten tersebut telah menghasilkan lebih dari 68 ribu panel rajutan dan telah menghasilkan setidaknya Rp 688 juta dari penjualan produk rajut tersebut.

Kelompok perajut PRIMA mulai terbentuk sejak 2018. Para perempuan ini memulai jejaknya ketika ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) mengawali Program Perempuan Indonesia Merajut. Bersama Yayasan Sri Sasanti Indonesia, EMCL memfasilitasi lebih dari 400 perempuan di Kabupaten Bojonegoro dan Tuban dalam mengembangkan keterampilan merajut.

Program PRIMA juga membekali peserta dengan materi motivasi diri, komunikasi dan sebagainya, sehingga tidak hanya terampil secara teknis namun juga maju dalam pemikiran dan kecerdasan sosial.

Melalui program ini, EMCL dengan Yayasan Sri Sasanti membangun kemitraan dengan perusahaan produsen busana dari Amerika Serikat. Hasil rajutan PRIMA dibeli oleh perusahaan tersebut dan dipasarkan ke seluruh jaringannya.

Baca Juga :  PEPC JTB Berbagi Dengan Penyandang Difabel

Perwakilan EMCL, Hasti Asih yang hadir dalam penyerahan penghargaan di Forum Kapnas ini mengaku bangga atas pencapaian PRIMA. Bagi dia, PRIMA bukan hanya sekedar program pengembangan masyarakat. PRIMA, kata dia, merupakan gerakan membangun kemandirian ekonomi perempuan.

“Kita para perempuan mampu menunjukkan bahwa kita mampu lebih mandiri dan berkontribusi konkret di masyarakat,” ucapnya bersemangat.

Hasti mengatakan bahwa program PRIMA tidak akan ada tanpa dukungan dari SKK Migas, Pemerintah Daerah, Pemerintah Desa, dan tokoh masyarakat serta para aktivis perempuan. Ke depan, untuk mengembangkan pasar para perajut, EMCL bersama Yayasan Sri Sasanti akan terus mendukung pengembangan pasar digital. Produk-produk PRIMA ditargetkan menembus pasar internasional melalui pasar daring dan e-commerce. (rin)

Share :

Baca Juga

Energi

PEPC Menginisiasi Kesadaran Bersama Masyarakat Untuk Pelestarian Lingkungan

Energi

PEPC JTB Berbagi Dengan Penyandang Difabel

Energi

Kembali Kunjungi Proyek Gas JTB, Wakil Kepala SKK Migas Semangati Tim Lapangan

Energi

Ditjen Migas Siap Sambut Milestone Penting Proyek Lapangan JTB
ilustrasi

Energi

Mengenal Lapangan Gas Kolibri-001 di Bojonegoro
TNI Siap Amankan JTB

Energi

Panglima TNI Siap Amankan Jambaran Tiung Biru

Energi

Rasakan Manfaat Efek Berganda Industri Hulu Migas, CV Bojonegoro Langeng Control Ingin Naik Kelas

Energi

Menteri ESDM Kunjungi Bojonegoro Pantau Persiapan Gas In JTB