Ekonomi

Diskusi Reboan: Transformasi Digital untuk Ketahanan dan Kemandirian Ekonomi UMKM

356
×

Diskusi Reboan: Transformasi Digital untuk Ketahanan dan Kemandirian Ekonomi UMKM

Sebarkan artikel ini
IDFoS Indonesia Menyelenggarakan Diskusi Reboan
IDFoS Indonesia Menyelenggarakan Diskusi Reboan

Bojonegoro – Hari ini, 22 Mei 2024, IDFoS Indonesia menyelenggarakan diskusi reboan dengan tema “Transformasi Digital: Membangun Ketahanan dan Kemandirian Ekonomi UMKM”.

Kegiatan tersebut berlangsung secara hybrid (online dan offline). Kegiatan offline digelar di Aula Rusunawa PCNU Bojonegoro.

Diskusi ini bertujuan untuk membahas strategi percepatan digitalisasi ekonomi khususnya di sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jawa Timur. Dalam sambutannya, Ketua IDFoS Indonesia menyatakan, “Kami menghadirkan multipihak, termasuk aktor-aktor pemangku kepentingan di era digital dengan percepatan teknologi yang luar biasa.

Kami ingin berkontribusi agar UMKM dapat berkembang lebih cepat, berdaya, dan memiliki kemampuan jelajah yang luar biasa dengan adanya teknologi informasi. Namun, ada tantangan di mana sarana infrastruktur teknologi belum cukup mendukung di desa-desa kecil.”

Beliau menekankan pentingnya pemberdayaan UMKM untuk membuka lapangan pekerjaan, mengurangi angka kemiskinan, dan mendorong semua pihak seperti pengampu kebijakan, media, perguruan tinggi, korporasi, dan filantropi untuk menyampaikan gagasan dan mencari solusi. “Kebijakan apa yang dapat dilakukan pemerintah agar produk UMKM bisa berkualitas dan kompetitif di pasar?” tambahnya.

Joko Hadi Purnomo menambahkan, “Kami berharap diskusi ini menghasilkan policy brief yang dapat disampaikan ke tingkat Kabupaten, Provinsi dan kepada Pemerintah Pusat.”

Acara ini menghadirkan empat pemantik yaitu Joko Hadi Purnomo (IDFoS Indonesia), Farida Hidayati (DPR RI Komisi XI), Kusnandaka Tjatur Prasetijo (Mewakili PJ Bupati Bojonegoro), dan Aidil Wicaksono (Business Digital Trainer Mien R Uno Foundation) yang juga anggota Perkumpulan Filantropi Indonesia bersama IDFoS Indonesia.

Baca Juga :  DPRD Bojonegoro Pastikan Aset Pasar Kembali ke Pemkab Tanpa Mengusir Pedagang

Dalam paparan awal, Farida Hidayati menyoroti bahwa modal merupakan keluhan utama pelaku UMKM. “Padahal, jika akuntabilitas kita bagus, saya yakin perbankan akan percaya sepenuhnya. Pendampingan sangat penting,” ujarnya. Ia juga menyarankan agar UMKM diberi insentif berupa kemudahan fasilitas dan pendampingan, bukan hanya uang.

Beliau juga menyoroti pentingnya regulasi yang mendukung UMKM. “Undang-undang tahun nomor 4 tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) memberikan angin segar bagi UMKM karena himpunan bank milik negara diwajibkan untuk memberikan pinjaman kepada UMKM, dan pastinya harus diterapkan juga di daerah” ujarnya .

Kusnandaka, yang mewakili PJ Bupati Bojonegoro, menekankan pentingnya literasi digital. “Tanpa pengembangan SDM yang berkelanjutan, upaya kita tidak akan berhasil,” katanya. Beliau sebagai Asisten Daerah II Kabupaten Bojonegoro juga mengungkapkan tantangan yang dihadapi UMKM di daerah.

“Sarana dan infrastruktur teknologi informasi di Bojonegoro sebenarnya juga belum sepenuhnya mendukung. Sehingga ini menjadi PR kita bersama baik pemerintah Desa, Kabupaten, Propinsi dan Pemerintah Pusat untuk mengupayakan infrastruktur TI hingga ke pelosok desa” imbuhnya.

Baca Juga :  IDFoS Indonesia Bersinergi dengan Berbagai Pihak Bagikan Hygiene Kit di Bojonegoro-Tuban

Di penghujung pemantik, Aidil Wicaksono dari Mien R Uno Foundation menyampaikan bahwa tantangan terbesar UMKM adalah ketidakjelasan target yang ingin dicapai.

“Pemerintah, Akademisi, NGO, Perusahaan dan UMKM sendiri memiliki kemauan yang sering kali tidak sama. UMKM masih belum tahu ke mana harus menuju,” ujarnya.

Output dan Outcome harus disusun dengan jelas, agar tahu apa yang mau dicapai. “Intinya cari tahu masalahnya UMKM dulu, baru dirumuskan strategi yang mau dilakukan” tambahnya.

Dalam penutupnya, Joko Hadi Purnomo menyampaikan beberapa poin penting: “Pertama, kita memiliki baseline data makro, tetapi detailnya mungkin tidak ada. Kedua, kolaborasi antar pihak sangat penting karena tidak ada yang bisa bekerja sendiri. Terakhir, membangun standarisasi untuk memastikan UMKM kompetitif, tidak hanya di pasar lokal.”

Rizal Zubad Firdausi selaku fasilitator, menyimpulkan bahwa, “Segala tujuan program akan bagus apabila diawali dengan baseline yang bagus dan riset yang baik. Literasi bisnis itu penting agar kita tidak hanya berjalan tetapi juga berkembang.” Dari perwakilan 25 lembaga yang hadir, telah terinventarisir berbagai permasalahan dan usulan solusi yang harus ditindaklanjuti untuk mewujudkan UMKM yang mandiri di era transformasi digital. (fa/rin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *