Berita Utama

TNI-Polri Jadi Katalis Pertanian Lokal: Mampukah Sinergi Ini Bertahan Setelah Panen Raya?

×

TNI-Polri Jadi Katalis Pertanian Lokal: Mampukah Sinergi Ini Bertahan Setelah Panen Raya?

Sebarkan artikel ini
TNI-Polri Jadi Katalis Pertanian Lokal: Mampukah Sinergi Ini Bertahan Setelah Panen Raya?
TNI-Polri Jadi Katalis Pertanian Lokal: Mampukah Sinergi Ini Bertahan Setelah Panen Raya?

Suaradesa.co, Bojonegoro – Di tengah sorotan nasional terhadap ketahanan pangan, sinergi antara aparat keamanan dan petani lokal kembali mencuat. Namun, yang menarik dari panen raya jagung di Desa Tulungrejo, Kecamatan Trucuk, bukan hanya hadirnya Forkopimda dan simbolisasi dukungan, tapi bagaimana TNI-Polri perlahan memainkan peran sebagai katalisator dalam sektor pertanian.

Kapolres Bojonegoro AKBP Mario Prahatinto bersama Dandim 0813 Letkol Czi Arief Rochman Hakim turun langsung ke ladang jagung.

Tidak hanya memanen, tetapi juga menyalurkan bantuan bibit dan obat-obatan pertanian kepada dua kelompok tani.

Langkah ini menyiratkan lebih dari sekadar dukungan seremoni—ini adalah percobaan membangun ekosistem pertanian berbasis kolaborasi lintas sektor.

“Ini bukan hanya tentang ketahanan pangan nasional, tetapi tentang menghidupkan kembali kepercayaan petani lokal pada negara,” ujar Mario. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin sekadar hadir saat panen, tetapi juga dalam proses—dari bibit hingga pasca-panen.

Menurut Andik Sudjarwo, Pj Sekda Bojonegoro, pendampingan aparat dalam sektor pertanian membuka ruang baru bagi petani untuk berani bereksperimen dengan metode pertanian modern.

Tapi, ia juga mengakui bahwa tantangan utama ada pada kesinambungan.

“Kami tidak ingin ini hanya jadi momen sesaat. Kita butuh sistem. Dukungan jangka panjang, termasuk pasar dan modal,” tegas Andik.

Sementara itu, kelompok tani yang menerima bantuan menyambut baik kehadiran aparat negara. Namun mereka juga berharap agar keterlibatan ini diikuti dengan pelatihan, akses pupuk bersubsidi, hingga penguatan koperasi tani.

Di tengah gempuran alih fungsi lahan, harga pupuk yang fluktuatif, dan minat generasi muda yang menurun terhadap pertanian, sinergi ini menjadi peluang langka.

Pertanyaannya bukan hanya seberapa luas ladang yang bisa ditanam, tapi seberapa kuat tekad negara untuk tetap membersamai petani setelah kamera dan mikrofon tak lagi menyorot.(red)