Pertamina EP Cepu
Berita UtamaSerba Serbi

Menikmati Dawet Hitam di Antara Hutan Jati Kedewan

197
×

Menikmati Dawet Hitam di Antara Hutan Jati Kedewan

Sebarkan artikel ini

Suaradesa.co (Kedewan) – Suasana hutan jati yang sejuk dan asri menambah kenikmatan tersendiri bagi warga di Desa Kedewan Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, untuk mencicipi dawet ireng milik Mbak Mumun.

Dawet ireng merupakan minuman khas asal Purworejo, Jawa Tengah. Namun ternyata penggemarnya tersebar sampai wilayah Jawa Timur. Bojonegoro, salah satunya.

Mbak Mun, sapaan akrab penjual dawet ireng ini mengatakan, jika Butiran dawet berwarna hitam, karena diperoleh dari abu bakar jerami yang dicampur dengan air, sehingga menghasilkan air berwarna hitam. Air ini kemudian digunakan sebagai pewarna dawet.

“Itupun, bahan bakunya dikirim dari wilayah Purworejo,” imbuh wanita berparas manis ini.

Baca Juga :  Babak Pertama Lawan Gen-B, Persibo Unggul 2-0

Menurutnya, warna jerami dari Bojonegoro tidak sepekat di Purworejo. Meski demikian, harga bahan baku dawet ini sangat murah.

“Jadi, seporsinya hanya Rp7000 saja,” imbuhnya.

Banyak yang mampir ke warung miliknya saat melewati Desa Kedewan. Tidak hanya para penambang sumur minyak, tetapi juga para pengendara yang menggunakan jalur alternatif Bojonegoro-Cepu.

“Alhamdulilah, setiap hari pasti dawet hitamnya habis terjual,” tandasnya.

Berbeda dengan es dawet biasa yang berwarna hijau karena memakai daun suji, dawet yang satu ini memakai abu merang atau jerami yang alami, sehingga menghasilkan warna hitam pekat atau keabu-abuan.

Baca Juga :  Raden Lancing Kusumo, Sosok di Balik Asal Usul Dusun Nggeneng

Dijelaskan, merang adalah sejenis padi-padian yang banyak tumbuh di dataran Jawa. Padi atau merang ini akan dikeluarkan dahulu bulirnya, lalu dibakar menjadi serpihan-serpihan kecil. Abu merang ini kemudian dicampur air yang kemudian bisa dijadikan pewarna makanan. Selain warnanya jadi hitam, merang juga menyumbangkan tekstur pada dawet yang kenyal alami dan enak

“Gulanya juga gula merah batok, rasanya khas,” lanjutnya.

Salah satu pengunjung, Budi (35), mengaku, sering mampir di waraung dawet milik Mbak Mun saat melewati jalan menuju Desa Hargomulyo ini.

“Selain rasanya enak, manisnya juga pas dilidah,” pungkasnya. (*Tya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *