Berita Utama

Manganan Warga Dusun Ngaglik di Bekas Sumber Mata Air

195
×

Manganan Warga Dusun Ngaglik di Bekas Sumber Mata Air

Sebarkan artikel ini

Suaradesa.co (Katur) – Pernah menjadi sumber mata air, Sumur Lo kini hanya menjadi seonggok bangunan yang terbengkalai tak terawat.

Sumantri (45) warga Dusun Ngaglik, Desa Katur, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mengungkap, Sumur Lo pada tahun 1992 menjadi satu-satunya sumur dengan sumber mata air uang jernih dan tidak pernah kering.

“Setiap musim kemarau atau mangsa ketiga, warga desa lainnya selalu kesini mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya, Kamis (25/6/2020).

Tahun 1998, Sumur yang dikelilingi pohon Lo dan hanya ditumpuk batu bata di sekitar lubang atau mulut sumurnya, dibangun oleh warga. Menggunakan semen dan agak modern kala itu.

“Bentuk awalnya itu, mulut sumurnya ditumpuki batu bata, kemudian airnya disedot menggunakan bambu panjang. Kemudian dibangun, disemen dan dibuat modern,” tandasnya.

Baca Juga :  Pemkab Bojonegoro Targetkan Cetak 838 Sarjana

Tapi kemudian, tahun 2000-an sumber mata air Sumur Lo mulai mengering. Hal ini dikarenakan warga sekitar mulai menyedot air untuk pengairan sawah dan digunakan Hippam.

“Air disini lambat laun mulai berkurang dan akhirnya kering kerontang,” tukasnya.

Di sebelah timur Sumur Lo masih terdapat Hutan Jati yang dikenal angker. Namun, itu dulu. Sekarang tidak lagi, warga tidak mengenal angker karena penerangan di sepanjang Kecamatan Gayam mulai terpasang dan jalanan mulai ramai.

“Meski tidak digunakan lagi, namun sumur Lo menjadi lokasi Manganan warga tiap tahunnya,” imbuh bapak dua anak.

Baca Juga :  Polres Blora Tetapkan Kades dan PLD Beganjing Menjadi Tersangka

Tokoh agama Dusun Ngaglik, Kundori, berharap Manganan yang digelar tepat pada hari Kamis Pahing ini bisa menjadi harapan dan doa warga agar selamat dari marabahaya.

“Juga, hasil panen melimpah dan dihindarkan dari wabah penyakit seperti Covid-19,” tukasnya.

Manganan itu sendiri, diikuti puluhan warga Dusun Ngaglik. Hampir semua yang ikut acara tersebut adalah ibu rumah tangga. Masakan yang dibawa pun beraneka ragam.

“Ada yang bawa rantang, ada yang bawa keranjang berkat,” kata Warni, warga setempat.

Setelah berdoa bersama, warga ramai-ramai memakan nasi berkat bersama-sama. Namun ada pula yang langsung dibawa pulang.

“Yang penting doanya, setelah berdoa kita pulang ke rumah masing-masing,” pungkasnya. (*Wed)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *