Suaradesa.co– Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) menggelar acara bertajuk “Dakwah Sphere: Ngaji dan Temu Pegiat Dakwah Digital NU” di Plaza Gedung PBNU, Jakarta Pusat. Acara ini menjadi momentum penting bagi pegiat dakwah digital NU, dengan salah satu agenda utama yakni peluncuran buku “Perempuan, Dakwah, Birokrasi & Media”, yang mengupas peran strategis perempuan dalam lanskap dakwah digital.
Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh terkemuka, di antaranya Dr. H. Rhoma Irama, Al-Habib Muhammad Syahab, KH. Syamsuddin Nur Makka, S.Sos., SQ., MA., serta para Alim Ulama Pengurus Lembaga Dakwah PBNU.
Kehadiran para pemuka agama dan akademisi ini menandai pentingnya peran perempuan dalam dakwah digital serta urgensi adaptasi dakwah terhadap perkembangan teknologi.
Ketua LD PBNU, Dr. KH. Abdullah Syamsul Arifin, dalam sambutannya menegaskan bahwa dakwah tidak dapat dipisahkan dari dinamika sosial, politik, dan teknologi.
“Buku ini hadir di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Perempuan memiliki peran besar dalam dakwah, baik di ranah domestik maupun publik. Media digital memberi peluang besar bagi perempuan untuk menyampaikan pesan Islam yang rahmatan lil ‘alamin dengan lebih luas dan efektif,” ujarnya.
Buku ini menghadirkan berbagai perspektif dari tokoh-tokoh NU dan akademisi terkait peluang serta tantangan perempuan dalam dakwah digital.
Dalam artikelnya “Mendigdayakan Dakwah NU, Menjemput Abad Kedua”, KH. Nurul Badruttamam menekankan pentingnya konsolidasi dakwah NU guna memperkuat peran perempuan dalam menyebarkan Islam yang moderat dan relevan dengan tantangan zaman.
Sementara itu, Prof. Dr. KH. Ahmad Tholabi Kharlie, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dalam tulisannya “Koderasi NU di Tengah Negara dan Netizen”, menggarisbawahi pentingnya strategi komunikasi dalam dakwah digital.
“Dakwah tidak cukup hanya berbasis teks dan ceramah, tetapi harus mampu menjangkau audiens melalui pendekatan interaktif dan strategi digital yang efektif. Perempuan memiliki keunggulan dalam membangun narasi yang inklusif di media sosial,” jelasnya.
Dalam artikelnya “Perempuan, Birokrasi, dan Media: Dakwah Digital sebagai Kekuatan Baru”, Gus Fauzinuddin Faiz menyoroti pentingnya keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan di ranah birokrasi dan dakwah.
“Perempuan harus lebih dari sekadar representasi; mereka harus menjadi pengambil kebijakan dalam urusan dakwah digital dan birokrasi keagamaan. Media sosial memungkinkan perempuan untuk menyampaikan pesan Islam yang moderat dan inklusif dengan cara yang lebih kreatif dan luas jangkauannya,” ungkapnya.
Sementara itu, KH. Rumadi Ahmad, dalam tulisannya “Memperkuat Khidmah NU”, menekankan bahwa persepsi masyarakat terhadap NU sebagai organisasi yang menjaga persatuan dan nilai-nilai keislaman sangat tinggi.
“Tantangan terbesar adalah bagaimana NU, khususnya perempuan NU, dapat lebih berperan aktif dalam dakwah digital tanpa terjebak dalam arus informasi yang sering kali menyesatkan,” ujarnya.
Ketua Umum PBNU, Dr. KH. Yahya Cholil Staquf, dalam sambutannya menekankan pentingnya NU untuk terus melakukan konsolidasi dalam dakwah agar lebih sistematis dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
“NU memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa dakwahnya tetap relevan dan berdampak luas, bukan hanya di lingkungan pesantren tetapi juga di ruang digital yang menjadi medan dakwah masa kini,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa dakwah bukan sekadar syiar agama, tetapi juga bagian dari transformasi sosial yang adil dan berkeadilan.
“NU berkomitmen untuk memastikan dakwah digital menjadi wadah yang inklusif bagi semua, termasuk perempuan yang selama ini kurang mendapatkan akses dan ruang yang luas,” tambahnya.
Peluncuran buku “Perempuan, Dakwah, Birokrasi & Media” mendapat sambutan hangat dari para peserta, terutama para pegiat dakwah digital yang ingin memperdalam wawasan tentang strategi menyampaikan pesan Islam di era digital. Diskusi interaktif yang digelar dalam acara ini membuka ruang bagi para peserta untuk berbagi pengalaman serta membahas tantangan yang mereka hadapi dalam dunia dakwah digital.
Dengan peluncuran buku ini, diharapkan semakin banyak perempuan, akademisi, dan aktivis dakwah yang terlibat aktif dalam membangun dakwah yang lebih ramah, inklusif, dan berbasis nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin. (red)







